Dialog Ramadhan dan Sarasehan, PMII Zainul Hasan Genggong Suondingkan Program Daerah Dengan Penguatan Spiritual

 


Probolinggo - Ramadhan sungguh istimewa dengan deretan penyebutan. Syahrun Mubarak, bulan yang diberkati oleh Allah SWT. Syahr al-Rahmah, bulan yang penuh Rahmat, Syahr al-Quran, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, Syahr al-Maghfirah, bulan yang penuh ampunan, terang Kasi PD Pontren saat menjadi narasumber dalam Dialog Ramadhan dan Sarasehan yang diinisiasi Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Zainul Hasan Genggong, Kamis (20/3/2025).


 

 Uraian Kasi PD Pontren

 

Ia melanjutkan, sangat tepat tema yang diusung PMII saat ini ; “Meningkatkan kesadaran spiritual demi menjalin keharmonisan di bulan Ramadhan”. Ramadhan bulan yang suci, sehingga semua orang beriman dapat menyucikan diri mereka dari lumpur dosa dan maksiat, Syahr al-Shiyam, bulan yang di dalamnya terdapat kewajiban bagi umat Islam untuk berpuasa. Karena itu momentum Ramadhan hendaknya bis akita manfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (Hablum Minallah).

 

Hablum minallah juga harus ditopang dengan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia (Hablum Minannas). Dua variabel ini semuanya tercermin dari nilai-nilai Ramadhan, yang apabila disimpulkan merupakan bulan peningkatan keshalehan spiritual dan sekaligus peningkatan keshalehan sosial, imbuhnya.

 

Dari Ramadhan setidaknya kita mendapat 4 pelajaran penting yang harus dipertahankan prestasinya dan dilestarikan dalam hidup sehari-hari oleh setiap pribadi beriman, sehingga menjadi pribadi yang selalu bersih dan fitri, pribadi yang menjaga diri dan keluarganya dari api neraka sehingga dengannya pula kelak akan lahir masyarakat yang bersih pula.

 

Nilai-nilai Ramadhan yang harus dijaga adalah: Menjauhi harta yang haram, Mengendalikan nafsu dari maksiat, Menundukkan Syaithan, Meninggalkan dosa dosa  dan kemaksiatan.

 

Nilai-nilai spiritual ibadah puasa Pertama, ibadah puasa merefleksikan keimanan seorang hamba kepada Sang Khaliq. Iman bagi setiap muslim ibarat air yang mengalami pasang-surut atau ibarat beterai diperlukan charge untuk mengisinya. Kehadiran ibadah puasa Ramadhan adalah musim charger beterai tahunan.

 

Kedua, meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT. Ibadah puasa wujud rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT, nikmat umur, nikmat sehat, nikmat kesempatan, nikmat kemampuan, nikmat rizki yang diberi Sang Khaliq.

 

Ketiga, Ibadah puasa adalah madrasah rohani, membangkitkan semangat spiritual, mendekatkan diri kepada Sang Pemilik jagat raya beserta segala isinya. Menggelorakan nafsu mutmainnah, menghentikan nafsu syahwat yang tidak pada tempatnya.

 

Keempat, ibadah puasa adalah sarana meraih taqwa. Nilai spiritual taqwa adalah tujuan dari ibadah puasa.  Kelima, ibadah puasa melatih manusia agar lebih tabah, lebih sabar. Ibadah puasa mampu mengendalikan amarah. Sebaliknya, ibadah puasa melatih kesabaran atas segala perbuatan orang lain terhadap dirinya. Ibadah puasa menguji ketaatan jiwanya, kejujuran dalam menjalankan ibadah puasa, di saat ramai atau di saat sunyi, jiwa terus menjalankan ibadah puasa.

 

Keenam, yaitu mengharapkan malam Lailatulqadar, menghiasi malam-malam Ramadhan dengan ibadah shalat malam (tarawih, witir, tasbih dan tahajud), tadarus Al-Qur’an, beri’tiqaf, beristigfar, berdo’a, berzikir mengharapkan ridha Allah SWT.

 

 


Mukhlis, Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Kab. Probolinggo

Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa Mukhlis, M.Pd mengulas pentingnya teman-teman Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan berbasis Islam Ahlussunnah Wal Jamaah untuk terus mengambil peran dalam pergerakan.

 

Sebagai generasi muda islam, PMII dapat mengisi ruang publik dengan hal-hal yang positif. Kalau kejahatan saja terpampang bebas di depan mata, lalu kenapa kita enggan untuk mempublis kebaikan, tegasnya.

 

Gerakan hendaknya mengarah pada bagaimana untuk menyelamatkan nasip generasi muda sebagai generasi masa depan. Saya tidak bisa membayangkan 20 tahun mendatang di mana tantangan jaug lebih besar, semakin dahsyat baik dalam tindakan maupun pemikiran. Maka eksistensi pemikiran yang komprehenship dengan balutan spiriualitas jauh lebih dibutuhkan, tandasnya.

 

Terakhir mantan Ketua Gerakan Pemuda Ansor kabupaten Probolinggo ini mengajak kaum muda untuk kedepannya perlu membentuk personal branding sehingga keilmuan kita tidak tergeser sia-sia.

 

Terkait perda madin, naskah akademiknya sudah masuk dalam Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) sebagai alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap, dibentuk dalam rapat paripurna, yang bertugas menyusun rancangan Program Pembentukan Peraturan Daerah (Properda).

 

Perda tersebut sudah dibahas dalam rapat paripurna perlu dilakukan revisi karena tidak ada cantolan hukum di atasnya setelah terbitnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.

 

Revisinya menjadi Perda Fasilitasi Kepesantrenan, karena pemkab tidak hanya mengkaver madrasah diniyah tapi semua Lembaga yang ada di bawah pesantren, terangnya.

 

Giat yang menghadirkan narasumber dari anggota DPRD dan Kasi PD Pontren Kemenag Kab. Probolinggo ini juga dihadiri Ketua IKA PMII Zainul Hasan, Mabinkom PMII yang diwakili Mas Ibnu Hajar, pengurus PMII Zainul Hasan   Genggong serta perwakilan organisasi pergerakan dan pemuda yang ada di Probolinggo. (red).

Posting Komentar

0 Komentar